Halo, para penjaga tradisi dan kolektor jersey yang anti-luntur! Pernah nggak sih kalian ngerasa bosen—atau justru lega—tiap kali ngeliat launching jersey baru tim-tim besar dunia? Real Madrid tetap putih bersih, Manchester United tetap merah membara, dan Chelsea tetap biru pekat.
Mungkin ada yang nyeletuk, “Duh, desainnya gitu-gitu aja, nggak kreatif banget apparel-nya!” Eits, tunggu dulu, bro. Di balik desain yang kelihatan “gitu-gitu aja”, ada alasan yang lebih dalam dari sekadar masalah estetika. Ada darah, keringat, sejarah, dan nilai ekonomi triliunan di balik warna-warna tersebut.
Kenapa sih warna home kit tim besar itu haram hukumnya buat diubah secara ekstrem? Yuk, kita bongkar rahasianya!
Bayangin kalau tiba-tiba Liverpool main di Anfield pake warna hijau lumut sebagai jersey kandang. Atau Juventus tiba-tiba pake motif bunga-bunga pink sebagai pengganti garis hitam-putih. Aneh, kan? Bahkan mungkin fans bakal demo besar-besaran di depan stadion.
Bagi klub besar, warna jersey adalah identitas visual. Di dalam sepak bola, warna berfungsi sebagai “bendera”. Saat seorang anak kecil pertama kali jatuh cinta sama sebuah klub, warna adalah hal pertama yang nempel di memori mereka. Warna merah bagi fans Liverpool bukan cuma warna, tapi simbol keberanian dan sejarah The Reds. Kalau warna ini diubah, identitas dan ikatan batin itu bisa luntur.
Kebanyakan tim besar dunia sudah berdiri lebih dari 100 tahun. Warna yang mereka pakai sekarang biasanya punya cerita “ajaib” di baliknya:
Real Madrid (Putih): Mereka pake warna putih bersih karena terinspirasi dari klub London, Corinthian FC, yang terkenal dengan sportivitasnya. Sekarang, putih Madrid adalah simbol kemewahan dan kesuksesan yang tak ternoda.
Juventus (Hitam-Putih): Awalnya mereka pake pink! Tapi karena sering luntur pas dicuci, mereka mesen jersey baru dari Inggris. Eh, yang dikirim malah jersey garis hitam-putih milik Notts County. Akhirnya malah jadi warna ikonik sampai sekarang.
Barcelona (Blaugrana): Perpaduan biru dan merah ini punya banyak versi sejarah, tapi yang paling populer adalah pengaruh dari Joan Gamper (pendiri klub) yang terinspirasi dari warna klub asalnya di Swiss, FC Basel.
Mengubah warna ini sama saja dengan menghapus sejarah panjang para pendiri klub tersebut.
Manusia secara alami adalah makhluk yang suka kenyamanan dan rutinitas. Bagi seorang fans, melihat tim kesayangannya keluar dari terowongan pemain dengan warna keramat mereka memberikan rasa aman dan kepercayaan diri.
Ada istilah “Heritage Marketing”. Klub besar tahu kalau mereka nggak perlu dandan aneh-aneh buat kelihatan hebat. Dengan mempertahankan warna tradisional, mereka menjaga “wibawa” di hadapan lawan. Tim lawan yang datang ke stadion bakal ngerasa terintimidasi pas ngeliat “lautan warna” yang konsisten dari tribun sampai ke lapangan.
Dari sisi bisnis (dan ini penting buat kamu sebagai Digital Marketing Specialist), warna jersey adalah Asset Brand.
Coba liat brand besar kayak Coca-Cola (Merah) atau Starbucks (Hijau). Mereka nggak akan pernah ganti warna logo karena itu sudah jadi top of mind konsumen. Hal yang sama berlaku buat klub bola:
Global Recognition: Orang di pelosok dunia mana pun tahu kalau tim baju putih itu Madrid dan tim baju merah-biru itu Barca.
Merchandise Sales: Fans bakal terus beli jersey baru tiap tahun karena itu warna tim mereka. Kalau warnanya berubah total, nilai koleksinya bisa dianggap “aneh” atau nggak otentik.
Sponsor Loyalty: Sponsor besar (Emirates, TeamViewer, Spotify) mau bayar mahal karena mereka pengen logo mereka nempel di “warna pemenang” yang sudah dikenal dunia.
Terus, kalau desainer apparel (Nike, Adidas, Puma) pengen eksplorasi kreatif, di mana tempatnya? Ya di Away Kit dan Third Kit.
Klub sengaja ngasih ruang buat “gila-gilaan” di jersey kedua dan ketiga. Mau pake warna ungu neon? Silakan. Mau pake motif macan? Boleh. Ini adalah strategi cerdik:
Menjaga Tradisi: Lewat Home Kit yang tetap klasik.
Mengikuti Tren: Lewat Away/Third Kit yang fashionable dan kekinian. Dengan begini, semua segmen fans (yang konservatif maupun yang hypebeast) terakomodasi semua.
Warna jersey kandang tim besar jarang berubah karena ia adalah detak jantung dari klub itu sendiri. Ia melampaui tren fashion yang datang dan pergi. Mempertahankan warna keramat adalah cara terbaik bagi klub untuk menghormati masa lalu sambil terus membangun masa depan.
Jadi, jangan kesel lagi ya kalau jersey tim jagoan kamu gitu-gitu aja tiap tahun. Itu tandanya tim kamu punya pondasi sejarah yang sangat kuat dan nggak gampang goyah cuma gara-gara tren sesaat!
No products in the cart
Return to shopAmbil Promonya Sekarang Juga
Don't Show Again
Ya, Saya Mau!