Halo, para pemuja nomor keramat dan kolektor jersey yang rela bayar mahal demi nameset idola! Kalau kita ngomongin nomor punggung, ada satu angka yang aura-nya beda sendiri. Angka yang kalau dipakai, beban di pundak langsung naik 100 kg, tapi harga diri juga naik 1000%. Yup, apalagi kalau bukan Nomor 10.
Pernah nggak sih kalian kepikiran, kenapa harus angka 10? Kenapa bukan angka 7 yang katanya angka keberuntungan, atau angka 9 yang tugasnya nyetak gol? Kenapa angka 10 selalu identik sama “Si Jenius”, “Sang Maestro”, atau “Dewa Lapangan”?
Yuk, kita tarik mesin waktu dan bedah sejarahnya sampai ke era modern sekarang!
Dulu, di awal abad ke-19, pemain bola itu turun ke lapangan tanpa angka di punggung. Penonton sering bingung, “Itu siapa sih yang lari-lari di pojok?”
Baru pada tahun 1920-an, nomor punggung mulai diperkenalkan secara resmi. Aturannya simpel banget: nomor diberikan berdasarkan posisi pemain di lapangan dalam formasi klasik 2-3-5 (dua bek, tiga gelandang, lima penyerang).
Nomor 1: Kiper (jelas).
Nomor 2-5: Bek dan gelandang bertahan.
Nomor 7-11: Barisan penyerang.
Nah, Nomor 10 secara tradisional ditaruh di posisi inside-left (penyerang kiri bagian dalam). Di posisi ini, pemain dituntut buat jadi jembatan antara tengah dan depan. Dia harus punya visi, operan akurat, dan kemampuan dribel di atas rata-rata. Dari sinilah benih “keistimewaan” itu muncul.
Kalau ada satu orang yang bertanggung jawab bikin nomor 10 jadi “suci”, orang itu adalah Pelé. Lucunya, ini semua berawal dari ketidaksengajaan!
Pada Piala Dunia 1958, federasi sepak bola Brasil lupa ngasih nomor punggung resmi ke FIFA. Akhirnya, seorang pejabat FIFA ngasih nomor secara acak ke skuad Brasil. Pelé, yang waktu itu masih bocah 17 tahun dan pemain cadangan, kebetulan dapet nomor 10.
Apa yang terjadi? Pelé menggila. Dia bawa Brasil juara dunia, nyetak gol ajaib, dan nunjukkin kalau pemakai nomor 10 itu adalah “pesulap”. Sejak saat itu, setiap anak di dunia bermimpi pake nomor 10 biar bisa hebat kayak Pelé. Nomor 10 resmi naik kasta dari sekadar “angka posisi” jadi “angka prestasi”.
Setelah era Pelé, posisi nomor 10 berevolusi jadi apa yang orang Italia sebut sebagai Trequartista (pemain di area tiga perempat lapangan).
Pemain nomor 10 bukan cuma penyerang, tapi playmaker. Dia adalah otak serangan. Bayangin nama-nama kayak Diego Maradona, Zico, Michel Platini, sampai Roberto Baggio. Mereka adalah seniman. Mereka nggak lari paling kencang, tapi mereka “melihat” apa yang orang lain nggak lihat.
Puncak dari romantisasi nomor 10 terjadi di era Diego Maradona. Di Piala Dunia 1986, Maradona bukan cuma pake nomor 10; dia adalah nomor 10. Gol “Tangan Tuhan” dan “Gol Abad Ini” ngukuhin kalau nomor 10 itu punya hak istimewa buat melakukan hal-hal yang nggak masuk akal.
Ada beberapa alasan kenapa angka ini punya vibe yang nggak dimiliki angka lain:
Dalam hitungan matematika dasar, 10 adalah simbol kelengkapan atau kesempurnaan (skala 1-10). Pake nomor 10 berarti kamu adalah nilai “sepuluh” di tim itu.
Biasanya, pelatih bakal ngasih instruksi ketat ke semua pemain, kecuali nomor 10. Mereka dikasih peran Free Role. “Kamu cari ruang aja, kreasiin serangan, lakuin keajaiban.” Kebebasan inilah yang bikin nomor 10 sangat glamor.
Bagi apparel seperti Nike atau Adidas, jersey nomor 10 selalu jadi best-seller. Nama Messi dengan nomor 10-nya di Barcelona atau Argentina udah jadi komoditas ekonomi bernilai triliunan. Angka 10 itu menjual!
Di sepak bola modern yang serba cepat dan fisik, posisi playmaker murni (klasik nomor 10) emang agak terancam. Taktik pressing tinggi bikin pemain nomor 10 nggak punya banyak waktu buat mikir.
Banyak pemain hebat sekarang pake nomor lain (kayak Ronaldo dengan angka 7-nya). Tapi, liat aja Lionel Messi. Dia bukti kalau magis nomor 10 nggak akan pernah mati. Dia adalah pewaris takhta Pelé dan Maradona yang paling sah.
Selain itu, muncul istilah “False 9” atau “Inverted Winger”, tapi tetep aja, kalau mereka dikasih pilihan, mereka pasti pengen pake nomor 10. Kenapa? Karena sejarahnya terlalu mahal buat dilewatin.
Nomor 10 bukan cuma soal urutan angka di punggung. Itu adalah tanggung jawab, ekspektasi, dan seni. Memakai nomor 10 berarti siap dicaci kalau main buruk, tapi siap dipuja bagai dewa kalau berhasil nyetak assist atau gol cantik.
Sejarah panjang dari Pelé sampai Messi telah mengukir angka ini menjadi simbol kecerdasan di atas lapangan hijau. Jadi, kalau kamu main bola bareng temen dan berani pake nomor 10, pastiin skill kamu emang mumpuni, ya! Kalau nggak, siap-siap aja kena ceng-cengan satu tim.
| Nama Pemain | Tim Ikonik | Karakteristik |
| Pelé | Brasil / Santos | Sang Raja, Pemrakarsa Magis |
| Diego Maradona | Argentina / Napoli | Sang Jenius yang Rebel |
| Zinedine Zidane | Prancis / Juventus | Elegan, Berkelas, Sang Maestro |
| Ronaldinho | Barcelona | Kegembiraan, Jago Gocek |
| Lionel Messi | Barcelona / Argentina | G.O.A.T, Alien Lapangan Hijau |
No products in the cart
Return to shopAmbil Promonya Sekarang Juga
Don't Show Again
Ya, Saya Mau!